We have new forums at NiteshKothari.com
TopBottom
Announcement: wanna exchange links? contact me at clwolvi@gmail.com.

Tato: Seni, Seksi, Jati Diri, dan Keindahan

Posted by Efprizan 'zan' Rzeznik at Friday, May 25, 2007
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

Beragam karya seni yang telah dihasilkan manusia sebagai bentuk apresiasi atas makna kehidupan. Salah satu bentuknya yakni tato. Seni melukis pada tubuh atau yang juga dikenal istilah body painting ini kini menjadi tren bagi masyarakat Pontianak, terutama kawula muda.

Oleh: Efprizan Rzeznik

UNTUK kesekian kalinya Ryan mendatangi Studio Tato ‘I Black’ di Jalan Merdeka kemarin. Kali ini, Ryan membawa serta sketsa gambar yang akan dilukiskan di tubuhnya.
Gambar tersebut berbentuk bidadari berpakaian futuristik yang membawa bola api di atas tangannya. Dewi yang dilukisnya itu juga mempunyi ekor, juga memiliki kaki yang menyerupai putri duyung. Ryan mengaku, gambar tersebut didapatkannya melalui mimpi. Ryan menamai gambar tatonya itu ‘Legend of Athena’.
Oleh Iis, Artis Tato (sebutan untuk penato) di I Black Studio, konsep itu kemudian dituangkannya ke punggung Ryan. Sesuai dengan pesanan Ryan, tato yang dibuatnya ini berjenis temporer. Artinya, tato itu hanya dapat bertahan hingga tiga minggu.
Berbeda dengan jenis tato permanen, tato temporer tidak menyakitkan tubuh. Tidak ada jarum yang akan menusuk kulit seperti dijahit. Pun pula tidak memakai zat warna khusus yang dimasukkan ke dalam kulit di bekas tusukan tadi.
Pengerjaannya tidak serumit membuat tato permanen. Sketsa gambar yang ada di cetak ulang pada suatu kertas, kemudian cetakan itu dilekatkan di bagian tubuh yang akan ditato.
Sebelumnya, dioleskan terlebih dahulu deodorant stick merek tertentu ke bagian tubuh yang akan ditato. Itu mempermudah tinta cetakan awal agar dapat melekat di kulit. Kemudian, jejak sketsa itu dilukis ulang dengan menggunakan tinta khusus.
Tinta yang dipakai sejenis inai. Tinta itu dipesan khusus dari Yogyakarta atau Bali. Hanya ada satu warna yang dipakai untuk membuat tato temporer yakni hitam.
“Sebenarnya sih bisa juga berbagai warna. Bisa tahan hingga tiga bulan. Tapi harganya mahal. Satu warna dengan ukuran botol setengah jari manis orang dewasa bisa seharga Rp600 ribu. Karenanya di studio kami tidak memakai itu. Nanti jatuh harganya ke konsumen pasti mahal,” kata Iis.

Ibu-ibu dan tato
Iis merupakan satu di antara tiga artis tato di I Black Studio. Masih ada Black dan Ibang, yang spesialis membuat tato permanen. Nama yang disebut terakhir merupakan pemilik studio tersebut.
Ibang mengatakan, anak muda pria dan wanita merupakan ‘pasien’ mayoritas mereka. Ternyata, ibu-ibu rumah tangga juga tak mau kalah. “Banyak juga ibu-ibu yang buat tato temporer. Biasanya mereka minta dibuatkan di jari hingga pergelangan tangan atau di kaki. Malahan, pernah ada yang datang untuk dibuatkan tato sekeluarga,” katanya.
Untuk jenis tato di tangan tersebut disebut dengan mahendi. Basanya digunakan sebagai hiasan pengantin. “Kami juga sering dipanggil oleh mempelai untuk dibuatkan mahendi,” kata alumnus Inti College Kuching ini.

Remaja dan tato
Tato selalu diidentikkan dengan kekerasan, kriminal dan pemberontakan. Anggapan negatif masyarakat tentang tato dan larangan memakai rajah bagi penganut agama tertentu semakin menyempurnakan pandangan tato sebagai sesuatu yang dilarang dan haram.
Keidentikan tato dengan kekerasan dan kriminal, kini terpupuskan. Kini, citra tato telah berkembang menjadi hiasan tubuh yang mempunyai cita rasa, seni, dan dianggap sebagai sesuatu yang modis, trendi, dan fashionable.
Hal itu dibenarkan Kiki. Remaja putri yang masih berstatus pelajar di sekolah swasta terkemuka di Kota Pontianak ini memilih tato bergambar kuda terbang bertanduk satu. Tato temporer yang dibuatnya di Bali itu kini menghiasi pundaknya. Gambar itu terinspirasi dari salah satu Diva Pop Jepang, Ayumi Hamasaki. Ia juga memiliki tato jenis tribal di pinggulnya.
Walaupun statusnya masih pelajar, ia tidak takut memiliki tato itu. “Ini ‘kan hanya temporer. Lagi pula, aku memakainya untuk fashionable saja. Kalau untuk dipermanenkan sih, masih mikir dua kali. Lagi pula ‘kan, bagian yang ditato selalu tertutup seragam sekolah, jadi gak masalah. Yang pasti, tato itu indah dan seksi. Ada aura yang bisa membangkitkan rasa percaya diri bagi pemiliknya,” katanya.

Tato bagian sensitif
Ternyata, penggemar tato yang menjadi pelanggan tetap di I Black mayoritas didominasi kaum hawa. “60 persennya adalah perempuan,” katanya. “Kebanyakan membuat tato temporer,” tambah ia.
Jenis gambar tribal menjadi favorit mereka, selain motif-motif serperti bunga atau kupu-kupu. Motif tribal merupakan ciri khas dari suku Indian Aztec. Menurut Ibang, model ini tetap menjadi tren dan tidak mudah lekang dimakan waktu.
Pinggul bagian belakang hampir mendekati belahan pantat, lengan, pusar hingga perut bagian bawah, dan pundak, menjadi menjadi bagian badan favorit bagi wanita untuk merajahkan gambar yang diinginkannya.
Tak sedikit pula perempuan yang menato di sekitar bagian payudaranya. Khusus menato di bagian-bagian sensitif kewanitaan itu, para artis tato mengedepankan jaminan privacy dan profesionalitas.
“Tidak ada pikiran macam-macam ketika menato bagian itu. Kalau pikiran ke mana-mana, ya tak selesai dong tatonya. Profesionalitas kita jaga. Bagaimana membuat konsumen nyaman dan aman,” kata Ibang. “Anggap saja mereka laki-laki,” tambah Iis seraya tertawa.

Teliti dan selektif
Bagi artis tato seperti Iis dan Ibang, sepertinya mempunyai etika moral tak tertulis sebelum menangani ‘pasien’ yang hendak membuat tato permanen. Oleh mereka, ‘pasien’ tersebut diharuskan mempunyai kesiapan yang matang, baik fisik maupun kejiwaan. “Kalau si pasien masih ragu-ragu, biasanya kita tawarkan tato temporer dulu,” kata Ibeng.
Ia melanjukan, kesiapan perlu dilakukan karena untuk menato itu berarti meninggalkan tanda permanen di tubuh kita. Walau sekarang sudah ada tattoo removal, yakni suatu cara menghilangkan tato dengan tembakan sinar laser, tapi proses tersebut tetap menimbulkan jejak permanen di tubuh, walaupun halus.
Ketelitian dan selektifitas tersebut menjadi pegangan mereka sebelum mencoretkan tintanya ke tubuh konsumen. “Yang paling utama adalah kesterilan alat seperti jarum dan juga kesehatannya,” kata Ibeng. (***)

Labels:

1 comments:

infogue said...

artikel anda bagus dan menarik, artikel anda:
Artikel seni-budaya terhangat
Artikel anda di infogue

anda bisa promosikan artikel anda di http://www.infogue.com/ yang akan berguna untuk semua pembaca. Telah tersedia plugin/ widget vote & kirim berita yang ter-integrasi dengan sekali instalasi mudah bagi pengguna. Salam!

Post a Comment